Belum Punya Portofolio? Buat Saja Study Case!
Portofolio adalah salah satu modal penting dalam berkarier. Namun, tidak semua orang langsung punya portofolio, terutama mereka yang belum punya pengalaman kerja atau belum pernah mengerjakan project dari klien. Kabar baiknya, hal ini masih bisa disiasati, salah satunya dengan membuat study case.
Lewat studi kasus, HRD atau klien tak hanya sekadar tahu apa bidang keahlianmu. Mereka juga bisa melihat bagaimana cara kamu mengatasi masalah yang muncul selama mengerjakan bidang yang kamu kuasai. Lalu, apa sebetulnya study case itu dan bagaimana cara membuatnya?
Apa Itu Study Case?
Study case adalah proyek yang menggambarkan bagaimana cara kamu mengatasi masalah yang berkaitan dengan bidang keahlianmu. Permasalahan yang dibahas bisa berasal dari kondisi nyata yang kamu alami atau skenario yang kamu buat sendiri (fiktif).
Lewat study case, HRD atau klien tak hanya melihat karya apa yang kamu hasilkan, tetapi juga:
- Cara kamu menganalisis dan memahami masalah.
- Cara kamu menyusun solusi atas permasalahan tersebut beserta alasan di baliknya.
Dari situ, mereka akan melihat apakah kamu punya kemampuan problem solving yang mumpuni atau tidak. Problem solving kini jadi salah satu skill penting di dunia kerja dan salah satu faktor yang bisa membuatmu mendapatkan pekerjaan.
Beberapa contoh study case berdasarkan bidang keahliannya adalah:
- Mendesain ulang aplikasi yang punya pengalaman pengguna buruk (UI/UX Designer).
- Menganalisis dataset publik untuk menemukan insight bisnis (Data Analyst).
- Membangun aplikasi sederhana untuk menyelesaikan masalah sehari-hari (Software Developer).
- Membuat strategi pemasaran berdasarkan kondisi sebuah bisnis (Digital Marketer).
Cara Membuat Study Case
Pastikan study case dibuat semenarik mungkin agar menarik perhatian HRD atau klien. Berikut beberapa cara yang bisa membantumu membuat study case:
1. Tentukan Permasalahan Sesuai Bidang Keahlianmu
Permasalahan yang kamu bahas pada study case harus sesuai bidang keahlianmu agar kamu mudah menjelaskannya, sekaligus meyakinkan HRD atau klien. Contoh: jika kamu digital marketer, angkatlah masalah seputar strategi pemasaran, cara mendapatkan perhatian calon konsumen, atau cara mengatasi komplain konsumen. Permasalahan ini nantinya harus tercermin dalam judul study case yang kamu buat.
2. Analisis Penyebab Masalah dan Tentukan Solusinya
Setelah menentukan masalah, analisis penyebabnya. Analisis bisa dilakukan lewat wawancara maupun mengumpulkan data penunjang seperti data statistik. Dari situ, kamu bisa memetakan solusi yang akan kamu lakukan. Disarankan untuk menjelaskan alasan kenapa kamu memilih solusi tersebut.
3. Tulis Semuanya Secara Singkat dan Mudah Dimengerti
Solusi yang kamu temukan harus ditulis singkat dan mudah dimengerti. Hindari penulisan yang kelewat panjang dan terlalu banyak istilah asing karena bisa membuat study case-mu kurang menarik dan susah dipahami.
Cara ini juga berlaku saat kamu menulis detail lain yang terkait study case-mu, seperti:
- Pendahuluan dan tujuan.
- Latar belakang masalah.
- Proses analisis masalah.
- Solusi dan alasan di baliknya.
- Hasil dari solusi yang kamu terapkan.
- Klien atau responden yang dilibatkan.
- Siapa saja yang merancang solusi tersebut, terutama jika kamu mengerjakannya bersama orang lain.
Kamu juga bisa menambahkan detail lain untuk menambah daya tarik, seperti infografis dan foto. Jangan lupa memberi keterangan pada tiap detail agar HRD atau klien tahu sumber dan konteks di baliknya.
Mulai Study Case Pertamamu Sekarang
Kamu yang belum punya portofolio kini tak perlu khawatir, karena bisa menyiasatinya lewat study case. Bahkan, study case bisa lebih ampuh dibanding portofolio biasa karena menonjolkan kemampuan problem solving-mu yang kini jadi salah satu skill penting di dunia kerja.
Butuh referensi lain? Baca juga cara membangun portofolio tanpa menunggu klien pertama dan cara memanfaatkan fake client untuk mengisi portofolio.
Kamu bisa membuat study case di mana pun, kapan pun. Supaya lebih cepat, kamu bisa mengandalkan Portolabs — platform learning by project yang membantumu membuat study case walau belum punya pengalaman kerja atau belum pernah mengerjakan project dari klien. Hasilnya bisa kamu pakai sebagai portofolio digital yang siap dilirik HRD dan klien, baik dalam maupun luar negeri.
Pendekatan Portolabs yang berbasis project nyata membuatmu tak sekadar menghasilkan study case mumpuni, tapi juga melatihmu jadi problem solver yang kreatif, analitis, dan terampil presentasi. Portolabs bisa kamu gunakan secara GRATIS!
Mau lebih powerful? Upgrade ke Premium dan biarkan Portolabs jadi problem solver andalanmu. Mulai buat portofoliomu sekarang.