Apakah Fake Project Boleh Dimasukkan ke Portofolio? Ini Aturannya
Pertanyaan ini muncul di hampir setiap fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja. Kamu butuh portofolio untuk melamar, tapi isi portofolio butuh proyek, dan proyek butuh klien yang belum kamu punya. Jalan pintasnya kelihatan jelas: bikin proyek sendiri. Tapi apakah itu curang?
Jawabannya bukan sekadar boleh atau tidak. Ada garis tipis antara latihan yang jujur dan klaim yang menyesatkan, dan garis itulah yang menentukan apakah fake project menolongmu atau justru menjatuhkanmu saat interview. Artikel ini membahas aturannya, bukan cuma teori.
Jawaban singkat
Fake project boleh dimasukkan ke portofolio, selama kamu menandainya sebagai concept project dan tidak pernah mengklaim itu pekerjaan klien asli. Yang membuatnya jujur adalah label dan konteks, bukan hasil visualnya. Kamu boleh mendesain aplikasi untuk sebuah warung kopi fiktif dan memajangnya. Yang tidak boleh: menyebut warung itu klien yang membayarmu, memakai metrik karangan seperti "menaikkan konversi 35%", atau meniru brand nyata seolah mereka menyewamu.
Kata "fake" di sini menunjuk asal briefnya, bukan kualitas kerjanya. Recruiter berpengalaman tahu bedanya, dan mereka lebih menghargai kandidat yang terus terang soal konteks karyanya.
Kenapa fake project justru wajar
Istilah lain untuk fake project adalah concept project atau spec project. Banyak desainer, developer, dan marketer masuk industri lewat karya yang mereka buat sendiri, bukan dari klien. Ini bukan celah, ini cara latihan yang normal.
Alasannya sederhana. Portofolio menjawab satu pertanyaan recruiter: bisakah orang ini mengerjakan pekerjaan yang akan saya berikan? Untuk menjawabnya, mereka butuh melihat cara berpikirmu, bukan bukti bahwa ada perusahaan yang pernah membayarmu. Sebuah concept project yang dikerjakan serius menunjukkan cara berpikir itu sama baiknya dengan proyek klien, kadang lebih baik karena kamu punya ruang untuk mendokumentasikan setiap keputusan.
Panduan portofolio dari Nielsen Norman Group juga menegaskan hal yang sama untuk bidang UX: yang dinilai adalah proses dan pengambilan keputusan, bukan status komersial proyeknya. Recruiter membaca alur berpikir, bukan invoice.
Aturan mainnya: tiga garis yang tidak boleh dilewati
Selama kamu di dalam tiga batas ini, fake project aman dipakai.
1. Selalu beri label jujur
Setiap karya latihan harus punya penanda bahwa itu concept project atau proyek latihan. Cukup satu baris di judul studi kasus atau di deskripsi, misalnya "Concept project, brief mandiri". Ini menghilangkan kesan kamu menyembunyikan sesuatu. Recruiter yang menemukan label ini justru membaca sisanya dengan lebih tenang.
2. Jangan mengklaim klien yang tidak ada
Boleh menulis "aplikasi pemesanan untuk warung kopi lokal". Tidak boleh menulis "klien: Kopi Kenangan" kalau kamu tidak pernah bekerja untuk mereka. Bedanya jelas: yang pertama menyebut skenario, yang kedua mengaku hubungan kerja yang palsu. Kalau kamu memakai brand nyata sebagai latihan redesign, tulis catatan tegas bahwa ini konsep tidak resmi dan brand tersebut tidak terlibat.
3. Jangan mengarang angka
Ini kesalahan yang paling cepat menghancurkan kepercayaan. Metrik seperti "meningkatkan retensi 20%" mustahil kamu punya tanpa data pengguna asli. Saat interview, satu pertanyaan lanjutan soal dari mana angka itu berasal akan membongkarnya, dan begitu satu klaim ketahuan palsu, seluruh portofoliomu ikut diragukan. Kalau mau menyebut hasil, sebut hasil yang bisa kamu tunjukkan: "menyederhanakan alur checkout dari lima langkah jadi tiga", bukan angka bisnis yang tidak pernah terjadi.
Yang membedakan fake project bagus dari yang asal fiktif
Boleh dipakai bukan berarti otomatis berguna. Banyak fake project yang gagal bukan karena statusnya fiktif, tapi karena tidak punya konteks.
Kuncinya ada di brief. Proyek yang berangkat dari brief spesifik punya tujuan, audiens, dan batasan. Batasan inilah yang membuat setiap keputusanmu bisa dijelaskan. Kenapa tombolnya besar dan di bawah? Karena briefnya bilang dipakai satu tangan sambil buru-buru. Kenapa kontrasnya tinggi? Karena dipakai di luar ruangan yang terang. Tanpa brief, kamu cuma menggambar layar cantik yang tidak menjawab apa-apa.
Kalau kamu belum terbiasa menulis brief, mulai dari contoh brief klien untuk latihan, lalu pelajari cara membuat fake project yang terlihat profesional supaya hasilnya tidak sekadar tempelan visual. Untuk ide yang sesuai bidangmu, ada 30 ide fake project berdasarkan bidang karier.
Contoh singkat: dari brief ke portofolio
Ambil brief lima baris ini:
Sebuah warung kopi lokal ingin aplikasi pemesanan sederhana. Pelanggan mayoritas mahasiswa umur 18 sampai 24. Deliverable: alur pesan dan bayar dalam tiga layar. Batasan: dipakai satu tangan, terang di luar ruangan. Sukses kalau pelanggan bisa checkout di bawah 30 detik.
Dari brief ini kamu bisa membuat studi kasus yang dibuka begini: "Brief meminta alur tiga layar untuk mahasiswa yang buru-buru antara kelas. Saya fokus memangkas pilihan, bukan menambah fitur." Lalu kamu tunjukkan tiga layar itu, masing-masing dengan satu kalimat alasan. Di bagian atas, label "concept project, brief mandiri". Itu sudah cukup jujur, cukup punya konteks, dan cukup untuk dinilai recruiter.
Kesalahan umum
Menaruh fake project tanpa label sama sekali. Bukan karena kamu berniat menipu, tapi recruiter jadi tidak tahu ini latihan atau kerja asli. Ambiguitas ini merugikanmu saat pertanyaan interview mulai menggali.
Semua proyek seragam. Lima aplikasi dengan gaya yang sama menunjukkan satu trik, bukan kemampuan beradaptasi. Variasikan jenis masalahnya.
Brief terlalu luas. "Redesain Instagram" itu ambisi, bukan brief. Semakin sempit briefnya, semakin tajam hasilnya.
Menyimpan portofolio tapi tidak pernah dipublikasikan. Karya yang tidak bisa ditemukan orang tidak membantu kariermu. Publikasikan, meski masih latihan.
FAQ
Apakah fake project dianggap curang oleh HR? Tidak, selama diberi label concept project dan tidak diklaim sebagai kerja klien asli. Yang dianggap curang adalah mengaku dibayar oleh klien yang tidak ada atau menempel metrik palsu.
Apakah recruiter bisa tahu itu fake project? Biasanya iya, dan itu tidak masalah. Mereka menilai cara berpikirmu, bukan status komersial proyeknya. Justru menyembunyikan konteks yang merusak kepercayaan.
Berapa banyak fake project yang ideal? Lebih baik tiga sampai empat proyek yang dalam dan bervariasi daripada sepuluh yang dangkal dan mirip. Kedalaman lebih dihargai daripada jumlah.
Bolehkah memakai brand atau perusahaan nyata di fake project? Untuk latihan redesign boleh, asalkan diberi catatan tegas bahwa ini konsep tidak resmi dan brand tersebut tidak terlibat. Jangan pernah menyiratkan mereka menyewamu.
Bagaimana menjelaskan fake project saat interview? Terus terang saja bahwa ini proyek konsep yang kamu kerjakan untuk latihan, lalu arahkan pembicaraan ke keputusan yang kamu ambil. Panduannya ada di cara menjelaskan fake project kepada HR saat interview.
Belum punya proyek untuk dimasukkan ke portofolio? Pilih brief sesuai bidangmu lewat challenge dan event di Portolabs, kerjakan study case-nya, lalu publikasikan hasilnya sebagai bukti skill di portofolio Portolabs.
Ringkasan
Fake project boleh masuk portofolio. Aturannya cuma tiga: beri label jujur sebagai concept project, jangan klaim klien yang tidak ada, dan jangan karang angka. Selama kamu di dalam batas itu, karya latihan menunjukkan cara berpikirmu sama baiknya dengan proyek klien. Yang menentukan bukan status fiktifnya, tapi apakah proyek itu punya brief yang jelas dan kejujuran soal konteksnya.
Kalau kamu baru mulai membangun portofolio tanpa pengalaman, lanjutkan ke cara membuat portofolio fresh graduate tanpa pengalaman kerja.